December 20, 2011

Lulusan Stikosa – AWS Harus berani Menghadapi Tantangan

Sepeninggal ayahnya dia berubah menjadi pribadi yang lebih mandiri. Di semester enam mungkin adalah periode yang tak akan dilupakan dalam hidupnya, dimana di semester itu dia harus mengikhlaskan seorang yang ia hormati harus pergi meninggalkan dia untuk selamanya.akhirnya ia memutuskan untuk berhenti kuliah dan mulai bekerja agar tidak lagi membebani ibunya. Ya,itulah sepenggal kisah kehidupan Noor Arief, alumni Stikosa – AWS angkatan 1992. Pria yang juga akrab disapa bandit ini bercerita pengalaman hidupnya sebelum menjadi wartawan criminal di Memo.

Berbagai pekerjaan pun pernah ia lakukan mulai dari kuli bangunan, tukang sablon sampai mengecat kampus pernah ia rasakan. Sampai akhirnya segala kerja keras dia terbayar ketika tahun 1999 dia diterima di Memorandum, salah satu Koran di Surabaya.Di tahun pertamanya bekerja di Memo, Arief langsung ditugaskan dibagian criminal. Pada awalnya pun dia sempat menemui kesulitan karena harus berhadapan dengan banyak karakter dan kurangnya channel. Tapi lambat laun semuanya kesulitan itu berubah menjadi kemudahan dan kesenangan, di criminal Arief seperti menemukan jati diri yang sebenarnya oleh karena itu sejak 1999 sampai sekarang Arief tidak pernah pindah dari bagian criminal.

“Saya tidak berpikiran pindah dari criminal, karena disini lebih menantang dan butuh perjuangan lebih untuk dapat berita,” ungkap pria berambut gondrong ini. Menurutnya jadi wartawan criminal itu tidak gampang, butuh keterampilan khusus untuk menjadi wartawan criminal yang baik. Beda dengan politik di criminal butuh skill yang lebih karena harus mencari data pada orang yang sedih dan semua itu tidak gampang. Banyak hal yang sangat berkesan ketika liputan criminal salah satunya berhadapan dengan mayat yang tidak dikubur selama 2 bulan.

“Wartawan terutama wartawan kriminal itu sebenarnya kurang ajar, karena mereka tidak tahu masalahnya tapi sok tau,”kata bapak dua orang anak ini. Di katakannya bahwa modal utama wartawan criminal itu hanya betah melek , tidak antipati dan yang paling penting adalah bagaimana cara dia mencari 5w1h. Hal yang terakhir itulah yang menurutnya sangat penting, di kampus – kampus komunikasi seperti Stikosa - AWS hanya diterangkan dalam berita butuh 5w1h tapi tidak pernah diajari bagaimana mencari 5w1h itu. Ketika ditanya bagaimana lulusan kesempatan lulusan AWS didunia komunikasi , Arief mengatakan bahwa adanya penurunan daya saing dari lulusan Stikosa – AWS.

Baginya lulusan akhir-akhir ini orang terlalu landai dan kurang berani mengambil kesempatan. Ditambah dengan minimnya fasilitas juga sangat berpengaruh terhadap daya saing lulusan Stikosa - AWS. Seharunya dikampus lebih ditambah lagi praktek untuk mahasiswa dan tak hanya sekedar teori, Stikosa – AWS seharusnya juga bisa lebih maju dari sekarang apabila kondisi manajemennya diperbaiki. “Apa susahnya sih mereka buat radio dan TV yang bisa dilihat orang banyak, toh alumni mereka kan banyak yang di media,” kritiknya.

Tapi sebagai lulusan Stikosa AWS, dia berharap alumni – alumni sekarang bisa mengikuti jejak senior-seniornya yang sukses dimedia, diapun tidak keberatan membagi ilmunya kepada mahasiswa Stikosa - AWS. “Kapanpun saya siap untuk AWS,”pungkasnya.

0 comments:

Post a Comment