December 12, 2011

IESQ dan IMTAQ Bentuk Karakter Mahasiswa Stikosa-AWS

Di era globalisasi seperti sekarang , tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan dunia komunikasi begitu pesat. Bahkan dunia komunikasi telah merambah menjadi industri media yang begitu menggiurkan. Pemilik modal pun berlomba-lomba mendirikan media yang dijadikan sebagai ladang bisnis untuk mendapatkan untung. Itulah pernyataan yang disampaikan oleh Widya Lestari saat ditanya mengenai perkembangan dunia komunikasi dewasa ini. Ia juga menambahkan bahwa dunia komunikasi tidak hanya dimiliki oleh orang-orang komunikasi saja, tetapi komunikasi telah berkembang masyarakat luas. “ Sekarang, hidup lebih mudah dengan adanya alat komunikasi seperti handphone dan internet. Kalau dulu belum ada handphone komunikasinya hanya tatap muka, beda dengan sekarang apalagi ada internet, jika cari informasi semakin gampang,” ulas perempuan yang berprofesi sebagai PNS di DISNAKER ini.

“Dengan semakin mudahnya akses di bidang komunikasi, banyak pekerja yang mempunyai motto bahwa apapun profesinya, lebih-lebih berbasis komunikasi sangat erat kaitannya dengan bidang IT(Informasi Teknologi),” imbuhnya. Menurutnya dampak yang ditimbulkan dari perkembangan dunia komunikasi sangat luas pengaruhnya terhadap kehidupan khalayak luas.

Ketika ditanya bagaimana peluang lulusan STIKOSA-AWS dalam menaklukkan dunia komunikasi dengan lugas ia mengatakan bahwa peluangnya sangat besar tetapi kembali pada diri pribadi lulusan tersebut. “ Apakah mahasiswa STIKOSA-AWS mau, mampu, atau bahkan mundur? Dikatakan mau apabila ada perubahan menjadi lebih baik, bisa menjalin mitra atau link-link dengan alumni yang sudah lulus. Mampu disini dipengaruhi oleh civitas akademika, dosen, mahasiswa. Atau mundur tidak mau berkembang dan stagnan berada di zona aman,” urai perempuan yang juga menjadi dosen di STIKOSA-AWS ini.

Mencetak lulusan STIKOSA-AWS yang berkompeten, berkualitas, dan siap kerja bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kerja sama antara civitas akademika, dosen, dan mahasiswa yang bersangkutan. Civitas akademika harus memperbaiki kinerja dan manajemennya bukan seperti sekarang terjadi ketidakharmonisan di tubuh yayasan dengan mahasiswanya. Dosen yang mengajar pun harus berkompeten dan bersertifikasi baik dari lulusan S1,S2, atau S3. Dan yang terpenting dari mahasiswanya, apakah ada motivasi untuk menjadi lebih baik. Hal inilah yang disampaikannya saat memberikan penjelasan.

Peranan dosen tidak bisa diremehkan dalam membangun karakter dan jati diri mahasiswanya. “Yang terpenting adalah mau dididik dan dijadikan seperti apa mahasiswanya? Apakah dibekali dengan IESQ yang berpondasi motivasi kuat, ataukah dibiarkan liar begitu saja seenaknya sendiri,” ungkapnya dengan nada lugas. Tentunya para dosen dan akademisi menginginkan para lulusannya berkompeten dan mempunyai kualitas prima saat keluar dari institusi pendidikannya. Maka, diperlukan pembekalan-pembekalan seperti IESQ(Intelektual,Emotional,Spiritual Quotient) sehingga mahasiswa mempunyai motivasi yang tinggi dan pola pikir zero mind dalam bertindak melakukan sesuatu. Dimantapkan lagi dengan IMTAQ(keimanan dan ketakwaan) yang dapat membentengi dirinya.

“ Coba bandingkan, lulusan STIKOSA AWS dengan IPK 3,00 peluangnya bisa diterima bekerja di dunia komunikasi dengan mahasiswa lulusan UNAIR dengan IPK 2,75. Media mana yang memerlukan dan butuh kontribusi keduanya?,” tanyanya dengan suara meninggi. Faktor-faktor seperti manajemen, sarana prasarana, dana, jaringan/mitra sangat mempengaruhi hal ini. “ Manajemen yang bagus dari pihak yayasan dan civitas akademika sangat diperlukan. Tentunya STIKOSA AWS harus membenahi manajemennya yang buruk. Kemudian kelengkapan sarana prasarana kampus yang harus ditambah oleh pihak kampus. Dananya, apakah berasal dari kas, cabang usaha(investor), pemerintah, maupun foundation. Bukannya, malah hasil penjualan aset tanah yang laku begitu banyaknya diperebutkan dan digerogoti dari bawah. Dan yang tidak kalah penting adalah adanya jaringan, relasi, hubungan baik dengan para alumnus yang sudah bekerja,” kata dosen pengampu mata kuliah komunikasi massa ini.

Dengan adanya hal ini diharapkan institusi pendidikan STIKOSA-AWS bisa mencetak lulusan-lulusan yang berkualitas, jurnalis dan broadcaster handal yang siap kerja dan mampu memenuhi kriteria pasar dunia kerja yang dibutuhkan.
(WILLIARTO/10.11.3595/JURNALISTIK)

0 comments:

Post a Comment