December 12, 2011

Budi Sugiharto : "Terbuka tapi Berat"

“Terbuka, tapi berat” begitu ucap Budi Sugiharto, alumni STIKOSA-AWS angkatan 1993 saat ditanya mengenai peluang mahasiswa AWS dalam menaklukan dunia komunikasi masa depan. Meski STIKOSA-AWS merupakan kampus komunikasi tertua di Indonesia, namun sejarah ini tak dapat menjamin suksesnya para alumni dalam menekuk persaingan dunia komunikasi masa depan.

Ia menambahkan bahwa bagus atau tidaknya kualitas lulusan STIKOSA-AWS sangat dipengaruhi oleh manajemen kampus dalam mencetak anak didik mereka. “Jangan hanya ngandelin nama alumni di brosur saja, tapi buktikan.”kata pria yang akrab dipanggil Uglu ini. Rupanya kemelut panjang yang sedang dihadapi kampus yang terletak di daerah Nginden Intan Timur ini berimbas terhadap kualitas alumni.

Pasalnya selama ini mahasiswa merasa dikadali yayasan dengan tidak memberikan pelayanan terbaik. Fasilitas umum seperti peralatan studio yang masih minim, kamera DSLR, wifi yang terbatas, kurangnya kepedulian kampus dalam mencetak mahasiswa berprestasi pun juga sangat kurang. “Gak cuma teori saja. Tapi imbangi dengan praktek. Apalagi saat ini lembaga kursus praktis jurnalis juga banyak,” Terang pria juga akrab dipanggil Ugik ini.

Pria penyuka nasi pecel ini menyayangkan pihak yayasan yang hanya ingin memperkaya diri bukannya memajukan dan membangun citra yang baik sebagai kampus komunikasi. “Sangat disayangkan, kampus komunikasi bila praktik dan sarana pendukungnya minim. Misal, untuk praktek fotografi, apa cuma ngandalin teori? Karena alat fotografi di kampus ini tidak ada. Padahal nggak semua mahasiswa punya alat atau kamera". tegas pria yang mengawali karirnya sebagai jurnalis foto itu. Ironis memang, dengan penjualan aset tanah hibah sebesar 6M namun kenyataannya kondisi kampus masih memprihatinkan dan berbuah turunnya akreditasi menjadi C.

Terlepas dari itu semua, pria kelahiran Bojonegoro ini menambahkan bahwa untuk menghadapi pesaingan dunia komunikasi online (internet;read) dibutuhkan persiapan sejak dini. “Jangan nunggu semester akhir, tapi mulai dari awal. Hal ini dapat diperoleh dari kampus dengan memperbanyak diskusi dengan awak media yang akan memperkaya pengetahuan sebelum bertemu dengan dunia kerja yang sesungguhnya” ungkapnya saat ditemui di tengah pameran benda komunikasi jadul yang bertajuk “Ben Si Dul”.

Selain itu, dibutuhkan sosok yang kritis, mau belajar dengan orang lain, tidak hanya mengandalkan teori kuliah, memperkaya pengetahuan, dan tidak cengeng.

Dari pengalamannya menjadi pendidik lepas di beberapa kampus komunikasi ternama di Surabaya, pria yang pernah menjabat sebagai Ketua HIMMARFI ini menuturkan bahwa kampus harus tahu kebutuhan siswa dan kebutuhan pasar dunia kerja. Seperti contoh kecil yang diambil dari kampus tempatnya mengajar dengan mendatangkan beberapa tenaga ahli dari media untuk diajak diskusi dan sharing sebelum disampaikan kepada mahasiswa. “Jadi biar mahasiswa tidak ketinggalan ilmu baru” beber pria penggagas pocketgraphy community ini.

Dengan begitu ia berharap beberapa tahun mendatang STIKOSA-AWS dapat mencetak bibit unggul, wartawan yang kritis, cekatan dan siap dalam menghadapi kondisi luar yang tak terduga. (DITHA MARSHA FATMA/foto : DOK)

0 comments:

Post a Comment