Hidup berkecukupan sebagai penyanyi Jazz di Indonesia, Jekti Prawinsiwi memilih kembali ke peran awalnya, padahal pada waktu itu ia menjadi salah satu koleksi Buby Chen yang terbaik.
Keputusan untuk berhenti dari seorang penyanyi Jazz awalnya tak mudah. “saya dan teman-teman, termasuk Bertha, adalah angkatan terbaik kala itu di Buby Chen,” katanya mengisahkan hidupnya yang dulu.
“Memang terkadang saya menerima job yang lumayan bagus, hanya saja tempatnya jauh sekali, dan selalu meninggalkan anak-anak dirumah pada malam hari, untung saja anak-anak selalu ada yang menemani dirumah” tambah Jekti.
Selama enam tahun, Jekti menjadi seorang penyanyi di Buby Chen, yaitu dari tahun 1995 sampai 2001, tidak mudah menjadi salah satu penyanyi yang dinaungi seorang Buby Chen, sebelum menjadi penyanyi di Buby Chen, Jekti mengawali kariernya di tahun 1993, pada saat itu sebagai penyanyi baru, ia hanya mendapat honor yang tidak seberapa besar.
“Banyak orang beropini, seorang penyanyi itu kehidupan dan pergaulannya tidak baik, mungkin selalu hidup di Dunia Malam, tetapi tidak di Buby Chen, karena Buby mempunyai peraturan yang ketat untuk penyanyinya dan musisinya.” Kata ibu dua anak.
Namun setelah enam tahun sebagai penyanyi Jazz, pada awal 2001, Jekti memutuskan untuk berhenti menyanyi, ia merintis usaha sendiri dirumah, sekaligus secara on lain, ia bergerak di usaha penjualan kelinci Persia dan kelinci Angora.
Tidak hanya itu, Jekti juga menjalankan usaha penjualan Batik serta mendirikan sebuah Wedding Organizer , “sebagai seorang ibu saya mempunyai aktivitas yang sangat padat,” ucap ibu kelahiran 6 oktober 1963 ini.
Alumnus Stikosa –AWS angkatan ’84 ini, berkegiatan diluar bisnis juga,”selain kongkow-kongkow di Makan Time bersama musisi jadul, saya juga mengikuti pengajian Jama’ah Shalat Khusyuk.”imbuh anak ke lima dari sembilan bersaudara yang mengaku paling nakal.
Dia juga mempunyai dua koleksi burung yang unik berjenis Burung Hantu, setiap ia merasakan penat dengan rutinitas sehari-harinya ia menyempatkan diri bermain dengan dua Burung Hantu tersebut.
Cinta Stikosa-AWS
Setelah Jekti lulus SMA pada tahun 1983, ia memutuskan untuk mendaftar di Stikosa-AWS , sebagai mahasiswa angkatan pertama setelah ber alihnya AWS (Akademi Wartawan Surabaya) menjadi Stikosa-AWS , yaitu angkatan ’84. Banyak teman-teman Jekti menjadi pengurus serta pengajar di Stikosa-AWS.
Setahun setelah ia mendaftar di Stikosa-AWS, Jekti pada tahun 1985 tepatnya pada tanggal 7 Agustus, ia melahirkanseorang anak perempuan yang diberi nama Tiara Degrasia, anak yang pertama ini sempat terdaftar di Stikosa-AWS angkatan ’03. Setelah ia mengambil cuti hamil , ia kembali berkuliah lagi di Stikosa-AWS, disaat ia berkuliah, ia membawa serta putrinya tersebut.
Pada tahun 1991, Jekti melahirkan anak ke-duanya yang berjenis kelamin laki-laki, dan diberi nama Krisna Bilal Arif, dan ia mengambil cuti hamil lagi. Akhirnya pada tahun 1992, Jekti Prawinsiwi dinyatakan lulus, meskipun hingga saat ini, ia belum sempat mengambil Ijazah S1-nya .
Jekti sempat memberikan pesan agar mahasiswa Stikosa-AWS termotifasi menjadi praktisi Komunikasi yang handal, karena sampai kapanpun, dalam suasana bagaimanapun, peluang untuk dunia komunikasi tidak akan pernah sempit atau terkikis. “Peluangnya sangat menjanjikan dan bagus, karena perkembangan ilmu yang paling pesat di dunia adalah komunikasi dan kebutuhannya. Tinggal pelakunya saja yang mampu menguak celah atau tidak. Mampu dan berani mencetuskan Visi dan Misinya atau tidak sama sekali,” ucapnya sambil tersenyum.(dimas angga perkasa/03.11.2875)






0 comments:
Post a Comment