Malam itu begitu cerah karena awan hitam tidak mengeluarkan air segarnya. Begitu pun juga angin yang menyapa tidak seantusias hari-hari biasanya. Riuh, gelak tawa, canda riang, seliweran anak-anak yang berlarian, dan cengkerama keluarga mewarnai suasana Taman Bungkul. Ratusan pengunjung hampir setiap malam meramaikan taman kta di jalan Raya Darmo itu. Ya, dalam sekejap Taman Bungkul telah menjadi tempat faforit untuk rekreasi keluarga yang mengasyikkan.
Taman Bungkul malam itu begitu ramai. Lebih ramai dari pada hari-hari biasanya. Lahan parkir yang memutari taman sejak pukul 21.00sudah tak mampu lagi menampung kendaraan, sepeda motor maupun mobil pengunjung.
Tidak hanya areal parir ang penuh sesak. Hampir di selurh sudut taman, tidak ada yang sepi. Di tengah kompleks, pengunjung tumplek bleg. Ada yang duduk-duduk sambil bersenda gurau, berpacaran sambil makan kacang, atau berlari-larian mengejar mainannya yang melayang di udara. Di lokasi ini, juga beroperasi para pengasong makanan-minuman, mainan, dan bahkan tukang ramal. Maka, tak heran bila situasinya jadi seperti pasar malam.
Begitu pula di areal bermain anak-anak atau track untuk para remaja bermain skate board. Tidak ada yang kosong. Bahkan, tidak hanya pemain skate board yang berlatih di situ. Anak-anak remaja yang hobi free style BMX pun tak ketinggalan nimbrung di arena bermain ssisi selatan tersebut. Mereka ingin menunjukkan kehebatannya beratraksi dengan sepeda mininya.
Saya tertarik mendekati anak-anak skate board, sepertinya para anak-anak skate sangat asyik memainkannya. Saya menemui salah satu seorang pemain skate board tersebut. Tetapi pemain skate board yang biasa nongkrong di Taman bungkul Surabaya ini kepincut dengan fingerboard. Gara-gara katanya sering bermain skate board. Trik yang dimainkan juga tidak beda jauh. Perbedaan hanya terletak pada kaki yang di ganti jari tangan serta ukuran papan yang lebih mungil.
Bagi Rendi 21, mahasiswa Jurusan Elektro semester VII, Universitas Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya ini permainan fingerboard menjadi alternatif klau hujan turun ketika bermain skate board di Taman Bungkul. “Jadi aku tetap bermain meski papan lebih kecil ukurannya,”ucap Rendi. Keasyikannya kurang lebih sama seperti bermain skateboard. Tingkat kesulitan memainkanya juga tidak jauh berbeda. Mereka yang sudah piawai di wilayah skateboard biasanya dengan cepat akan memainkan fingerboard.
Semua berdasar bagaimana gerak lincah jari telunjuk dan jari tengah mengontrol papan. Kadang-kadang jari ada dalam posisi berdiri atau direbahkan. Beberapa trik yang biasa mereka mainkan antara lain kick flip dan heel flip. Itu istilah saat skate berputar di udara mengarah ke dalam atau ke luar bodi skate. Juga shuv it ketika jari pindah dari tail ke nose dan sebaliknya sembari melayang di udara. Feaky (no ollie dari tail), nollie (ollie dari nose, dan 360 flip yaitu menggerakkan jari dari nose kembali ke nose saat beradadi udara. Terdapat puluhan trick pada permainan fingerboard,tujuanya sambil kita saling ngobrol-ngobrol.
Mengapa disini ada nose dan tail?Tanya saya. Bagian fingerboard terdiri dari deck,tape,truck,bushing,dan roda.Deck merupakan komponen utama papan,pada skateboard standard adalah tempat orang berdiri. Nah, bagian depan dan belakang deck ini yang dinamai nose dan tail. Jari telunjuk berada di bagian tengah dan jari tengah berada pada tail (bagian belakang papan). Posisi bisa berganti bila posisi awal dirasa kurang nyaman.
Terdapat tiga jenis fingerboard yaitu low kick, medium kick dan high kick. Ini ditentukan dari ketinggian lekuk nose dan tail. Bentuk lekuk tail sendiri lebih pendek dibanding nose. Panjang rata-rata 96 mm dengan variasi lebar 26 mm, 28mm, dan 29 mm.
Dalam kompetisi, prinsip bermain harus maju terus tanpa boleh berhenti atau mundur. Sekali run (berjalan) durasinya satu menit. Di samping itu dikenal pula Game of Skate (GOS) yang merupakan pertarungan antara dua pemain atau lebih. Permainan berlangsung hingga ada satu pemenang berdasar skor yang dikumpulkan.
Dua minggu sekali kompetisi dilangsungkan di Taman Bungkul Surabaya. Biasanya Jumat mulai pukul 19.00 WIB. Sekitar 20 orang berkumpul. Selain bermain mereka juga saling tukar trik. Sementara itu, komunitas fingerboard untuk seluruh Indonesia dikenal nama komunitas Papanjari, ujar Rendi sambil minum es.
Sebelum saya menyudahi perbincangan, karena dia mau bermain-main fingerboard nya kembali. Saya meminta ijin buat minta fotonya untuk sebagai profilnya. Saya mengucapkan terima kasih kepada rendi karena sudah mau di ajak ngobrol dan anaknya asyik ramah banget deh pokoknya. Nah, sekian dari saya. Marliana Erni Febrianty/Jurnalistik/NPM : 08.11.3319






0 comments:
Post a Comment