Sejak pukul 04.30 WIB, ketika orang lain masih terlelap dalam tidurnya, tidak demikian dengan Lilik. Wanita berusia 54 tahun itu, harus bangun untuk menunaikan sholat shubuh. Seusai sholat, tidak lupa dia membangunkan sang suami, Irsyad. Kemudian, barulah dia memasak makanan untuk sarapan. Di siang harinya, Lilik menjahit baju pesanan tetangganya.
Menjelang malam tiba, Lilik pergi untuk mencari nafkah. Dinginnya udara malam yang menembus pori-pori kuli tak menyurutkan langkahnya untuk berjualan. Sekitar pukul 19.00 WIB, ia berangkat dari rumahnya menuju ke Taman Bungkul. Sesampainya di Taman Bungkul, Lilik langsung mencari tempat, kemudian menggelar barang dagangannya.
Belum lama ini Lilik berjualan di Taman Bungkul.
“Saya jualan disini baru 3 bulan, karena diajak oleh tetangga saya, yang juga pedagang asongan di sini,” katanya. Kopi instan, rokok, air mineral, dan minuman pengganti ion tubuh adalah jenis barang yang dijualnya. Hanya minuman yang di jual karena menurut Lilik minuman lebih laku ketimbangan makanan atau kue.
Sejak 2 tahun lalu, suaminya Irsyad sakit stroke, hingga tidak bisa berjalan. Sehingga, Lilik lah yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Walaupun penghasilan yang didapat dari berjualan tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Lilik tetap bersyukur. “ Biasanya kalau lagi ramai saya dapat 40 ribu. Jika sepi seperti ini Cuma dapat 35 ribu. Alhamdulillah mas, yang penting bisa dibuat makan dan sisanya untuk membeli kopi lagi,” paparnya.
Sebenarnya Lilik memiliki 3 anak dari hasil pernikahannya dengan Irsyad, tetapi semua anaknya sudah berumah tangga. Sehingga Lilik tinggal berdua dengan suaminya. Lilik juga berprinsip tidak akan menyusahkan keluarga dan anak-anaknya. “ Selama saya masih sehat dan masih kuat, saya akan mencari nafkah sendiri. Saya tidak mau bergantung dan merepotkan anak-anak, karena mereka sudah berkeluarga semua,” terang nenek dengan 6 cucu ini. Jika usianya sudah lanjut dan benar-benar tidak mampu untuk bekerja, barulah dia akan tinggal bersama anak sulungnya di Jember.
Saat ini Lilik dan Irsyad, tinggal di perkampungan daerah Ambengan Surabaya. Rumah yang dihuninya sekarang merupakan tanah yang dimiliki PJKA. Dia mendapat bantuan tempat tinggal, berkat jasa dan pengabdian suaminya ketika masih bekerja sebagai penjaga perlintasan pintu kereta api. Walaupun kediaman yang ditempati sekarang hanya berukuran 4mx4m, tetapi nyaman bagi Lilik. “ Saya, sangat bersyukur walaupun rumah saya kecil, hanya satu kamar, tetapi bisa dibuat tidur dan berteduh dari panas dan hujan,” urainya. Ketika ditanya bagaimana jika sutu saat nanti digusur oleh PT.PJKA, dengan tenang dia menjawab bahwa dia akan ikut anak-anaknya atau pulang ke kanpung halamannya di Bangkalan, Madura.
Meski hidupnya serba kekurangan, tetapi Lilik tidak pernah mengeluh dan bekerja lebih keras lagi. Dia menerima dengan ikhlas, apapun nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Ironinya lagi, bantuan dari pemerinta setempat dan pelayanan akses kesehatan tidak didapatkanya. “ Saya tidak pernah dapat bantuan dari PEMDA, melainkan bantuan sembako dari Yayasan Sosial. Jika berobat dan pergi kerumah sakit, saya pakai uang sendiri tidak ada ASKES,” ujar wanita 54 tahun itu. Menurutnya ASKES(Asuransi Kesehatan) dan JAMKESMAS(Jaminan Kesehatan Masyarakat) hanya dimiliki warga yang mempunya KTP dan KK asli Surabaya.(WILLIARTO/10.11.3595/JURNALISTIK)






0 comments:
Post a Comment