October 22, 2011

Black si Penyayang Keluarga

Ditatanya uang itu lembar demi lembar sembari menghitungya perlahan. Meluruskan beberapa uang lecek agar rapih dan segera memasukkannya ke dalam kantongnya. Kemudian diusapnya perlahan peluh yang menjelajahi pelipisnya. Padatnya pengunjung Taman Bungkul Surabaya malam itu memang membuat udara sedikit panas. Namun tak membuat pria itu patah arang menjajakan dagangannya, tahu sumedang. Terlihat dari senyumnya yang hangat menyapa setiap pembeli maupun calon pembeli.

Black, begitu ia biasa dipanggil. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk berdagang. Pria yang tinggal di daerah kedurus ini mengaku bahwa jiwa berdagangnya telah ia dapatkan sejak kecil. Pasalnya ia memulai kariernya dalam dunia perdagangan semenjak ia berumur 10 tahun.

Perjalanan itu dimulainya dengan berjualan nasi bungkus seharga Rp 10 pada pagi hari dan bakpao seharga Rp 25 sore harinya. Namun di saat anak-anak seusianya telah mengenyam bangku sekolah dasar kelas enam, ia bahkan belum pernah merasakannya. Baru ketika ia menginjak tahun ke empat belas dalam hidupnya, ia memberanikan diri untuk daftar di sebuah SD impress seorang diri.

Dan uniknya, pria yang bercita-cita ingin memiliki usaha rumah potong hewan sendiri ini melakukan shortcut kelas di tahun pertamanya sebagai seorang pelajar. Bayangkan saja, jika umumnya kita memulai pendidikan kita dari kelas satu namun tidak untuk Black. Ia langsung dinaikkan ke kelas empat walau ia mengaku saat itu dirinya masih buta huruf dan aksara. Untuk menyiasatinya, pria berkulit sawo matang itupun mengambil les private kepada salah seorang gurunya yang juga merupakan tetangganya.

Tak jauh berbeda, kini tiap hari rutinitasnya ia mulai dari jam setengah enam pagi dengan membantu istrinya berdagang gorengan. Mulai dari pergi ke pasar hingga membuat adonannya. Kemudian pada pukul 09.00 pria yang lahir 50 tahun silam ini berangkat ke pabrik pembuatan tahu sumedang. Di sana ia tengkulak tahu sumedang sebanyak 300 bungkus per harinya. Lalu ia mulai berkeliling menjajakan dagangannya di sekitar lampu lalu lintas daerah Karang Pilang. Dua jam setelahnya ia meluncur ke daerah Gunung Sari, Surabaya. Dan ketika hari telah menemukan sinar rembulan, ia bergegas menuju salah satu lokalisasi di Surabaya. “Yang paling seneng itu ya di situ, soalnya rame sekali, laris manis, dapat hiburan gratis pula” aku pria yang dikarunia tiga orang putra ini sambil terkikik menahan gelak tawanya.

Sampai tengah malam pun ia rela, asal dapat membahagiakan keluarganya lebih-lebih istri yang sangat dicintainya. Pria yang bernama lengkap Selamet Sri ini sempat membeberkan pahitnya kehidupan rumah tangganya dengan istrinya yang pertama. Ia dikhianati mentah-mentah oleh istrinya, walau sudah dikarunia dua orang putra. Namun, benar adanya bahwa Tuhan selalu bersama orang-orang yang sabar. Tak lama setelah itu, ia mempersunting seorang wanita sholeh asal Madura yang usianya jauh lebih muda darinya. Dari pernikahannya yang sekarang, pria yang dulu pernah bekerja di rumah potong hewan ini telah dikarunia seorang putra yang baru berusia tiga tahun.

Tak main-main, dari hasil jerih payah membanting tulang siang malam, ia mampu mendirikan sebuah rumah bagi keluarganya pada tahun 2003. Ia selalu merasa bersyukur atas apa yang ia dapatkan. “Pokoe hidup serba cukup” tutur pria yang dulu sempat menjadi buruh tani dengan rendah hati. Sungguh semangat yang patut dicontoh oleh generasi muda saat ini.

Untuk membuktikan rasa sayang kepada keluarganya, ia sengaja membuat hari Minggu sebagai “quality time” untuk mereka. Pada hari itu, ia dan keluarganya sering kali bertamasya ke sekitar Surabaya bahkan luar kota mengendarai motor. Memadu kasih bersama istri dan anaknya dalam melodi keluarga yang indah. Sungguh sebuah panorama keluarga kecil yang bahagia. (DITHA MARSHA FATMA)

0 comments:

Post a Comment