October 19, 2011

Penjual Semanggi Gendong

Salah sudut di keramaian Taman Bungkul Surabaya terdapat seorang perempuan yang sudah cukup umur , sedang duduk di bawah pohon yang rindang dengan ditemani bakul gendongannya yang telah di gelar dan siap untuk dijual. Ketika aku hampiri rupanya dia adalah Penjual Semanggi, dengan bahasa jawa halus dia langsung menawari saya dengan semangginya.Tertariklah saya untuk membelinya, dan akhirnya kita berbincang-bincang.

Ibu Suhartini adalah nama penjual semanggi tersebut dan usia nya 48 tahun, sehari-hari dia memang berprofesi sebagai penjual semanggi gendongan. Rumahnya berada di daerah Benowo-Kendung Surabaya Utara. Sudah 26 tahun ibu Suhartini berprofesi sebagai penjual semanggi, hampir sebagian kota Surabaya pernah menjadi tempat ia menjual semangginya.

Kali pertama tempat Ibu Suhartini menjual semangginya yaitu disekitar daerah Sidotopo-Rungkut-Barata, tetapi itu tidak berjalan lancer seperti yang dia bayangkan karena tempat terlalu jauh dan pulangnya terlalu sore karena jualannya tidak terlalu menarik pembeli. Tetapi sekarang Ibu Suhartini sudah berpindah lokasi, Jika hari Senin Ibu Suhartini libur jualan, hari Selasa dia berjualan di sekitar Sepanjang-Sutos, hari Rabu-Sayas berjualan di sekitar Pakis dan Radio SS, untuk hari Minggu dia berjualan di Taman Bungkul.

Ibu Suhartini memulai menyiapkan semanggi yang akan dijual dari pukul 03.00 wib, pertama dia menyiapkan takarannya bahan-bahan yang akan di olah yang nantinya akan menjadi 32 pincuk semanggi dengan harga @pincuk Rp. 5000,-. Kemudian dia menyiapkan bahan bumbu sambal untuk semanggi dengan cara ditumbuk bukan digiling karena dia merasa lebih nikmat rasa bumbu jika ditumbuk dengan menggunakan bambu. Setelah itu ibu menyiapkan satu kilogram daun semanggi dengan cara di rebus, daun semanggi dia beli dari petani semanggi yang tempat tinggalnya di Benowo-Surabaya. Sambil menunggu daun matang dan bumbu yang hampir jadi, Ibu mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat subuh. Selesai sholat dia melajutkan untuk menggoreng krupuk sebagai teman semanggi lalu membersihkan Pincuk yang terbuat dari daun pisang sebagai lapisan dalam dan kertas sebagai lapisan luar picuk. Daun pisang dia beli dari pasar, dia selalu menyiapkan daun pisang untuk hari selanjutnya karena takut persediaan daun pisang di pasar tidak ada. Setelah semanggi sudah siap, dia langsung bergegas menyiapkan makan pagi untuk keluarganya. Pukul 08.00 Wib dia menggendong bakul semangginya dan segera berangkat berjualan, untuk menuju tempat tujuannya dia menggunakan angkutan umum dan becak. Sampai di tempat tujuan ibu berjalan langkah-demi langkah sambil menawarkan semangginya. Semanggi sudah habis maka bergegaslah dia pulang sekitar pukul 16.00 Wib, kalau masih ada sisa biasanya dia berikanan kepada sopir atau tukang becak.

Memang capek sebenarnya setiap hari menelusuri jalan dengan membawa gendongan semanggi, tetapi Ibu Suhartini selalu mencoba untuk ikhlas dalam menjalani hidup ini. Bagaimanapun dia tetap berusaha demi mendapatkan sebuah risky, dan membantu suaminya dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Jika ibu tidak bekerja maka tidak ada pendapatan karena pekerjaan suaminya musiman, suaminya bekerja sebagai buruh kuli bangunan sedangkan Ibu Suhartini dan Bapak Sulaiman (suami) 53 tahun masih mempunyai seorang anak gadis yang masih duduk di sekolah SLTP, semua anak Ibu Suhartini dan Bapak Sulaiman ada empat. Anak pertama sampai ketiga sudah berkeluarga sendiri tinggan anak yang keempat masih sekolah.

“Tidak pantang menyerah demi hidup” itulah kata yang membuatnya tetap bekerja keras karena ibu suhartini dan suami ingin melakukan Rukun Islam yang kelima yaitu berangkat Haji, apakah itu bisa terjadi kepada seorang penjual semanggi seperti saya ini?????? ‘ucap Ibu Suhartini sambil tersenyum.

saya pun juga tersenyum mendengarkan pertanyaan ibu suhartini, selesai melahap semanggi Ibu Suhartini saya berpamitan untuk menyudahi pembicaraan dan tak lupa saya membayarnya. (Safitri)

0 comments:

Post a Comment