Eka Pranawan, 22, adalah seorang penikmat Taman Kota. Ditemui di Taman Bungkul, Eka, dan temannya Evan, terlihat sedang menikmati udara malam Surabaya, Eka sedang mengobrol seru dengan temannya.
“Saya sangat menyukai Taman Bungkul ini. Penataan yang rapi dan bersih membuat taman ini tampak segar. Saya sengaja datang kesini untuk mencari hiburan dan refreshing saja,” ujarnya.
Kelebihan lain taman yang terletak di Jalan Darmo ini adalah adanya tempat untuk anak muda bermain skateboard dan sepeda BMX. Para muda-mudi masih banyak yang memanfaatkan tempat ini walaupun sekarang telah disediakan Skate Park sendiri di sebelah Kali Ketabang.
Lelaki yang bertempat tinggal di Jalan Simo Tambakan Sekolahan 2 Nomor 11 ini menuturkan, adanya makam Sunan Bungkul juga menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Surabaya maupun luar Surabaya. Sering kali, banyak bus dari luar kota yang parkir di dekat Taman Bungkul. Penumpang bus-bus tersebut adalah para pengunjung makam Sunan Bungkul.
Satu hal yang menurut Eka sangat mengganggu kenyamanan Taman Bungkul. Yaitu banyaknya pengamen yang menghampiri para pengunjung.
“Disini banyak sekali pengamen. Satu diberi uang, satu lagi muncul. Begitu seterusnya. Hal itu tentu sangat menggangu kenyamanan,” Kata lelaki yang bekerja di PT. Insera Sena ini.
Harapan Eka selanjutnya ialah agar lebih banyak lomba-lomba di Taman Bungkul yang dapat meningkatkan kreatifitas. Baik untuk anak-anak ataupun remaja-remaja.
“Dan juga kalau bisa, ditambahkan fasilitas wall climbing. Mengingat tidak banyak taman kota yang menyediakan fasilitas ini, Taman Bungkul bisa menjadi trend center untuk taman-taman kota lainnya.” Tambah pria yang mempunyai tinggi 175 cm ini.
Lain Eka, lain lagi dengan Eko. Pemilik nama lengkap Eko Indriyanto ini adalah salah seorang pedagang kaki lima di Taman Bungkul. Ia sehari-harinya berjualan kopi, rokok, dan beberapa camilan-camilan ringan untuk pengunjung.
“Berjualan di taman ini gampang-gampang susah. Gampangnya, karena banyak pengunjung yang membeli barang dagangan saya. Susahnya, saya tidak diperbolehkan berjualan di dalam taman,” komentarnya.
Keluhan lain disampaikan pemilik tubuh tambun ini, yaitu seringnya razia pedagang kaki lima oleh para satpol PP. 3 tahun berjualan di Taman Bungkul, tahun ini adalah tahun paling sering diadakannya razia.
“Walaupun banyak razia satpol PP, saya masih betah berjualan disini. Ini karena pengunjung di Taman Bungkul paling ramai jika dibandingkan dengan taman-taman kota lainnya,” ujarnya.
Lelaki berusia 25 tahun ini berharap, para pedagang kaki lima ini dibuatkan tempat tersendiri untuk berjualan. Agar mereka tidak lagi main kejar-kejaran dengan satpol PP. Dan juga, lanjutnya, tempat tersebut diusahakan berada didekat pusat kota yang ramai pengunjung. Agar penghasilan mereka tetap seperti sebelumnya.
“Ya, semoga saja tempat khusus pedagang kaki lima itu segera ada. Capek juga rasanya kejar-kejaran dengan petugas satpol PP terus.” Kata Eko.
(Ramon Danis PS)






0 comments:
Post a Comment