Sempat membingungkan dalam memilah seorang narasumber yang pantas untuk berbicara tentang kondisi kampus Stikosa-AWS saat ini. Namun, akhirnya media berhasil menentukan sosok yang sesuai. Inilah ia, Widya Lestari S.
Awalnya media datang dengan kondisi perut yang keroncongan, namun entah mengapa media merasakan sebuah aura dan semangat membara yang mengalir disekujur tubuhnya saat menginjakkan kakinya didepan kantor Dinas Tenaga Kerja yang beralamat di Jl. Jemursari Timur II/2 Surabaya ini. Sebuah semangat demi terungkapnya kebenaran dibalik konspirasi yang tengah terjadi dikampus komunikasi ini. Entah mengapa. Mungkinkah karena saat itu merupakan hari pahlawan? Dan rasa lapar itupun langsung sirna ibarat debu yang tersapu angin.
Memang, tidaklah lucu jika markas wartawan akhirnya menjadi objek peliputan wartawan sendiri karena borok yang dibuat oleh beberapa oknum perusak sendi pendidikan. Ya, tepat sekali. Stikosa-AWS lah yang dimaksud.
Beberapa hari yang lalu kita sempat dikejutkan oleh sebuah pemberitaan dibanyak media massa tentang kejadian diStikosa-AWS. Tanpa banyak diperkirakan oleh banyak pihak, dibalik kampus yang melahirkan banyak tokoh ini, ternyata menyimpan kisah memilukan yang menjadi salah satu sebab turunnya akriditasi kampus ini menjadi C. Korupsi, begitulah kita menyebutnya.
Ehem. Inilah sebuah fakta penting untuk anda ketahui. Sebuah pengakuan dari seorang alumnus sekolah tinggi tertua seIndonesia Timur, Stikosa-AWS. Tak hanya seorang alumnus, namun juga seorang dosen sekaligus praktisi komunikasi Negera atau lebih tepatnya sebagai Pejabat Fungsional Pengawas Tenaga Kerja.
Mengapa fakta ini begitu penting? Karena tak banyak yang mengetahui kalau bu dosen kita kali ini ternyata sempat menjadi seorang pengurus akademik dikampusnya sejak 1983 hingga 2003 silam. Lebih tepatnya sebagai staff administrasi. Dari sini kita bisa tahu, bagaimana awal mula kampus ini hingga seperti saat ini.
Adapun dalam memperbaiki kondisi kampus, ia berpendapat hampir sama dengan para senior dan alumnus kebanyakan yakni agar diadakannya pembenahan dibidang administrasi. Sebagaimana kita ketahui saat ia menduduki sebagai petugas administrasi di kampus tersebut ia melihat banyak kekurangan didalamnya, terutama para pengelolanya. Dan itu sudah terlihat sejak pertama kali bekerja disana.
Selain itu, ia juga memberikan solusi tentang pentingnya diadakan perombakan kebijakan yang lebih berani dalam mengambil resiko demi perkembangan kampus, terutama dalam mendatangkan para investor. Investor yang berasal dari kalangan kampus sendiri, bukan dari pihak luar. Dalam hal ini ia mengacu pada kampus putih Muhammadiyah Malang yang sukses karena tangan seorang alumnus Stikosa-AWS sendiri.
Berbicara tentang kesuksesan Muhammadiyah Malang, ia menjabarkan bahwa alumnus Stikosa yang ada disana menerapkan kebijakan saham layaknya kebijakan saham media massa dulu. Yakni yang lebih mengutamakan kesejahteraan didalamnya daripada mengejar keuntungan dari kerjasama pihak luar. Lebih rincinya, dengan 50 persen saham untuk pemilik perusahaan dan 50 persen sisanya untuk para elemen yang ada didalamnya, baik itu para karyawan, keluarga mahasiswa ataupun dosen yang mengajar didalamnya.
Dilain sisi ia juga memperhatikan kekurangan yang menurutnya ada keganjalan yang muaranya datang dari tingkatan pusat jajaran AWS yakni Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur ( YPWJ ) selaku pemegang otoritas tertinggi kebijakan kampus. Yayasan yang seharusnya bersifat menaungi malah terkesan membiarkan nasib kampus ini stagnant dari tahun ketahun, lebih dari 10 tahun. Tak hanya stagnant atau jalan ditempat, bahkan berjalan mundur dari yang bermula akreditasi-B menjadi akreditasi-C. Ck,ck,ck. Mosok seh mas, ket biyen kampus iki yo ngene-ngene iki, “ ujarnya.
Kemudian yang menjadi pertanyaan kita adalah, kriteria pemimpin yang seperti apakah yang pantas duduk disinggasana YPWJ dan AWS ini? Dengan tegas ia menjawab, yang pengusaha. Ia sama sekali tidak menekankan pada seorang alumnus aslinya, namun boleh yang selain dari lulusan Stikosa asalkan mampu mencari dan mengolah dana demi kemajuan semua anak perusahaannya yang meliputi semua sekolah kejurusan, baik itu tingkatan mahasiswa maupun siswa, terlebih lagi mampu meningkatkan kualitas maupun akreditasi yang tengah menimpa kampus Stikosa-AWS.
Berbicara tentang bagaimana management seharusnya, ia membagi kepengurusan yayasan sebagai berikut ; ketua yang sebagai pemegang kebijakan lebih banyak bekerja diluar ketimbang dikantor, atau lebih mudahnya menjalin kerjasama dengan banyak instansi lain, baik komersil maupun non-komersil. Dan urusan internal, mustilah diserahkan kepada para pengurus yayasannya.
Adapun dipihak kemahasiswaan atau perekrutan menambahkan tentang perlunya penyeleksian yang lebih ketat terhadap penerimaan mahasiswa baru. Proses ini perlu agar diketahui para calon mahasiswa yang sedang dibutuhkan saat ini. Entah itu mahasiswa yang tahu bagaimana seharusnya dan apa yang tidak seharusnya mereka lakukan terhadap kampus. Dan proses penyeleksian ini tak lepas dari tes psikologi.
Dari tes psikologi inilah akan diketahui bagaimana kualitas para calon mahasiswa yang diharapkan menjadi cikal bakal penerus perjuangan kampusnya. Apakah ia akan menjadi seorang mahasiswa yang peduli, tidak peduli ataukah pura-pura peduli terhadap nasib almamaternya kelak.
Kemudian setelah proses penyeleksian usai, ia menambahkan tentang perlunya kegiatan pelatihan yang lebih ditekankan kearah kemandirian atau lebih dikenal kewirausahaan. Pelatihan ini bisa diletakkan pada salah satu atau semua rangkaian OPSPEK dan LKMM-TD. Beberapa nama yang layak untuk menyampaikan materi kemandirian ini terbagi antara kewirausahaan umum yakni yang tidak terkait dengan media massa ia menyarankan dari anggota Apindo dan kewirausahaan khusus yakni yang lebih terkait dengan media massa, ia menyarankan nama Errol Jonathans, Direktur Utama Suara Surabaya, Himawan Mashuri, Direktur Utama PT. Jawa Pos Televisi dan ABG Satria Naradha, Pemimpin Bali Tv.
Setelah usai proses wawancara, mediapun kembali teringat kembali dengan kondisi perutnya yang lapar. Dan benar saja, ibarat ketiban durian runtuh media mendapatkan tawaran sekotak nasi yang ada dihadapannya dari wanita ini, yang kebetulan juga sudah menjadi incarannya sejak awal wawancara. Akhirnya, mediapun kembali membawa sekotak foam berisi sebuah makan siang dari ibu dosen ini. Bukan sebagai ongkos tutup mulut, tapi hanya sebatas penutup mulut agar perut tidak mengkerut. Suer!(Fajrul Hanif)






0 comments:
Post a Comment