Rasa manis dan warna yang menggugah selera, membuat tak hanya anak-anak tapi juga orang tua untuk mencicipinya. Itulah Arum manis, jajanan tradisional yang mencoba tetap eksis di tengah gempuran jajanan impor.
Arum manis berbahan dasar gula dan pewarna makanan. Pembuatannya pun mudah, hanya perlu menambah gula pada cetakan lalu gula diaduk sampai berbetuk seperti kapas dan di beri pewarna. Karena berbahan gula, Arum manis memberikan rasa yang sangat manis ketika dimakan, tapi semua itu seperti berbanding terbalik dengna kehidupan penjualnya.
Kehidupan yang pahit justru dirasakan oleh penjualnya, salah satunya adalah Muhammad Sholeh. Dengan pendapatan rata – rata 30 ribu setiap hari lelaki perantauan ini harus bertahan dari kerasnya kehidupan Surabaya. M Sholeh adalah warga asal Pasuruan yang mencoba mengadu nasib di Taman Bungkul, sebelumnya dia adalah buruh tani di desanya tapi dengan pendapatan yang kecil dan biaya hidup yang semakin besar akhirnya dia memberanikan diri untuk merantau ke Surabaya.
“Saya ingin mengubah hidup saya menjadi lebih baik di Surabaya,” kata M Sholeh. Tapi kehidupan di Surabaya ternyata tak semudah yang ia bayangkan, dengan penghasilan dari berjualan arum manis yang hanya cukup untuk makan sehari – hari, dia pun tidak mampu menyewa rumah dan harus mau sehari – harinya tidur di Mushollah Mbah Bungkul.
Karena pendapatan yang sangat minim itulah tak jarang dia harus pulang kampung dengan tangan hmpa, walau begitu Sholeh tetp menyempatkan diri untuk pulang kampong. “5 hari sekali saya selalu menyempatkan untuk pulang kampong, karena kangen dengan anak – istri,” ucapnya dengan mata berkaca – kaca.
M. Sholeh lahir tangggal 15 Oktober 1981 di Bangil, Pasuruan. Dia mempunyai seorang istri dan satu anak perempuan, pria ini telah 5 tahun berjualan di taman Bungkul. Pahit dan manis telah ia rasakan, dari di obrak secara baik – baik sampai secara kasar pernah di rasakannya. “Paling tidak enak ya ketika di obrak secara kasar, tapi kita hanya rakyat kecil jadi tidak bisa berbuat apa – apa,” ungkapnya dengan legowo.
M. Sholeh adalah contoh kecil warga yang mencoba hidup di tengah kerasnya kota Surabaya, walaupun hidup serba kekurangan tapi dia tetap sabar dan ikhlas menghapinya. (Willy Irawan)







0 comments:
Post a Comment