Sehelai jilbab yang menutupi rambutnya dan sebatang rokok yang ada di genggamannya, membuatku tertarik untuk menjadikannya sebagai narasumber. Awalnya aku takut untuk menghampirinya tapi di balik penampilannya yang nyleneh dan tatapan matanya yang tajam itu, Adjeng (31 tahun), biasa ia disapa, ternyata pribadi yang ramah dan humoris. Ia adalah peramal tarot yang setiap harinya beroperasi di kawasan taman Bungkul Surabaya. Di sana ia tidak sendiri. Ia ditemani suaminya yang berprofesi sebagai tukang pijat urat.
Ibu satu anak ini menjadi peramal di Taman Bungkul sudah satu tahun lamanya. Sebelumnya ia bekerja di Home Industry alat-alat rumah tangga. Kemampuannya meramal diwarisi dari nenek angkatnya. Saat itu ia masih duduk di bangku SMP.
Setiap hari, ibu yang tinggal di Jl. Joyoboyo Surabaya ini beroperasi dari pukul 12.00 – 24.00 WIB. Konsumen yang menggunakan jasanya cukup variatif, mulai dari yang muda, tua, pria dan wanita. Beraneka macam yang diramal, mulai dari masalah karir, jodoh, masa depan dan lain-lain. Tarif yang dikenakannya sebesar Rp. 25.000 untuk sekali ramal dan konsultasi. Akan tetapi bila ada pasien yang tidak mampu membayar, berapa pun jumlahnya ia terima. Bahkan dengan bayaran sebungkus rokok dan korek pun, ia mau menerimanya.
Omzet yang diperoleh setiap harinya tidak menentu. Sehingga tidak bisa dipastikan jumlah nominalnya “ Pendapatanku iki bendinane ora mesti mbak, kadang enek, kadang yo ra enek blas. Lha mosok wong-wong kape tak pekso ono masalah… hahaha,” paparnya sambil tertawa lebar. Meskipun penghasilannya tidak menentu, pekerjaan itu dijalaninya dengan tekun. Bagi ibu yang sedang hamil empat bulan ini meramal adalah sudah menjadi bagian dalam hidupnya.(Yuli Elok Fitriyah






0 comments:
Post a Comment