Dibalik fungsinya sebagai taman wisata, ternyata masih menyimpan sebuah cerita yang bernuansa spiritual. Sebuah kisah dari sang abdi Gusti Raja.
Taman Bungkul. Orang Surabaya mana yang tak kenal dengan nama ini? Hampir semua masyarakat Surabaya pasti tahu tempat ini, atau bahkan sudah pernah berkunjung kesana. Sebuah taman indah dengan tata letak dan dekorasi hiasan-hiasannya yang tepat, membuat para pengunjungnya nyaman untuk melepas penat sejenak atau berlibur sesuasai beraktifitas.Namun tahukah anda bahwa nama didalam taman ini ada sebuah masjid dan satu komplek makam seorang wali? Makam seorang wali yang terhitung sangat dekat dengan Sunan Ampel, Bungkul namanya.
Diujung kiri sisi bangunan peribadatan. Duduk bersila ditengah hamparan karpet hijau. Mulutnya bergumam seakan-akan mengucapkan kata-kata tertentu. Kemudian berdiri setelah seorang lelaki datang menghampirinya, mengucapkan beberapa kata yang bermaksud memberi tahukan bahwa ada seseorang yang ingin berjumpa dengannya. Demikianlah awal perjumpaan kami setelah saling berucap salam sebagai tanda persaudaraan.
Muhammad Towwil begitulah ia biasa disapa. Lelaki paruh baya dengan sarung melilit dipinggangnya. Dalam mengemban tugas semacam ini ia sangat memerlukan dua kunci agar ia tetap tegar menjalani tugasnya, yakni ketekunan dan kerelaan. Tak akan pernah bisa bertahan dalam tugas menjenuhkan ini, jika tanpa ketekunan. Tak akan bisa dikatakan tekun jika kerelaan hati tak mengiringi langkahnya dalam bertugas. Hal ini ia buktikan dengan pengabdiannya selama 13 tahun sebagai pemimpin ibadah ritual rutin umat Islam, sebagai seorang badal imam atau imam pengganti shalat lima waktu dimasjid bersejarah ini.
Memang dalam jejak pengabdiannya sebagai seorang pemimpin peribadatan ritual kepada Sang Khalik pria ini sempat bertutur bahwa ia memang sempat tergoda saat tengah memimpin shalat. Godaan terbesar baginya ialah rasa “ riya “ atau yang biasa dikenal dengan istilah mencari perhatian. Yo ancen musuh agenge kyai yo pancen kyaine dewe, umpami amalane katah becike nanging menawi wonten roya njih mboten wonten maknane, begitu ungkapnya. Selain itu dia juga mengakui bahwa sangatlah tidak terpuji jika seorang imam membacakan surat yang teramat panjang. Memang benar pernyataan tersebut
Tak ada angin, tak ada hujan dan pastinya tak ada salju malam itu. Namun udara terasa sejuk menemani pertemuan kami berdua. Berbicara seputar sejarah masjid dan pemakamannya. Kemudian berlanjut dengan kisah hidupnya. Tentang anaknya yang berjumlah lima, dan cucunya yang sudah berjumlah tujuh.
Tiba-tiba ditengah obrolan kami, ada seorang lelaki yang memberikan isyarat. Isyarat yang menandakan datangnya waktu isya. Kamipun bersiap-siap menghadap Sang Khalik, bersama-sama dan mengakhiri pertemuan kami berdua. Fajrul Hanif/Jurnalistik/NIM : 10.11.3566






0 comments:
Post a Comment