October 20, 2011

Balada Seorang Pedagang di Taman Bungkul Surabaya

Taman Bungkul Surabaya juga menjadi tempat strategis untuk para Pedagang Kaki Lima (PKL) berjualan. Terutama mereka yang berjualan minuman, makanan ringan, dan rokok. Pengunjung yang tidak pernah sepi membuat para PKL ini menjadi betah berjualan disini.

Atifah contohnya. Wanita berusia 31 tahun ini sudah berjualan selama enam tahun di Taman Bungkul. Sebelumnya, ia pernah berjualan di depan Masjid Al-Akbar Surabaya. Tetapi, karena banyaknya saingan, dagangannya disana tidak terlalu laris.
“Waktu saya berjualan di depan Masjid Al-Akbar, penghasilannya tidak terlalu banyak. Jauh berbeda dengan hasil penjualan saya di Taman Bungkul ini. Pengunjungnya ramai terus,” ujar ibu tiga anak ini.

Wanita berjilbab ini merantau dari tempat asalnya Madura, ke Surabaya sepuluh tahun yang lalu. Diawali dengan berdagang aksesoris di Pasar Pandegiling, hingga kini menjadi PKL di Taman Bungkul Surabaya. Atifah biasa berjualan mulai pukul 14.00 hingga pukul 19.00 lalu dilanjutkan oleh suaminya hingga dini hari. Ketika jam berjualan selesai, suami Atifah menitipkan meja dan alat-alat jualannya di tempat penitipan. Per bulan, dikenakan biaya Rp 25.000,-

Atifah sangat menyukai pemerintahan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Ia menuturkan, semenjak Tri Rismaharini menjabat Walikota, PKL di Taman Bungkul menjadi lebih tertib dan teratur.

“Kalau dulu, sering sekali ada obrakan dari Satpol PP. Tapi, sejak Bu Risma menjadi Walikota, para PKL disediakan lahan untuk berjualan. Sekarang PKL diperbolehkan berjualan, asalkan hanya di sepanjang trotoar, tidak sampai masuk ke Taman Bungkul. Juga, tidak diperbolehkan mengotori lahan. Setiap pedagang menyediakan plastik untuk tempat sampahnya sendiri.” Kata wanita yang bertempat tinggal di Jalan Pandegiling ini. ( Cindy Dinda Andani )

0 comments:

Post a Comment