Tato sudah menjadi bagian hidup dari pria asal Madiun ini. Demi hobinya, dia hampir telah menjelajahi berbagai tempat di pelosok Nusantara sebagai seorang seniman tato. Kini tiap hari dia membuka jasa pembuatan seni menggambar di bagian tubuh tersebut, di Taman Bungkul, Surabaya.
Malam itu terlihat seorang pria sedang mengukir sebuah tulisan ditangan seorang pengunjung taman dengan menggunakanan alat dinamo. Perlahan-lahan dia ukir agar membentuk tulisan yang dingingkan oleh si pelanggan. Setelah diukirnya, dia memberikan setuhan warna agar tulisan itu tampak semakin indah.
Inilah pekerjaan keseharian Arya, salah satu seniman yang aktif berkarya pada seni tato. Dia menekuni seni ini sejak berada dibangku kuliah jurusan seni rupa di salah satu institut swasta di Yogyakarta. Dia mulai tertarik kala berkumpul dengan para wisatawan yang sedang menato di emperan jalan. Disanalah pria kelahiran 11 Juli tersebut mulai tertarik dengan tato. Selain mempunyai hobi menggambar, kala itu dia berpikiran kegiatan tersebut bisa dijadikan sebagai ladang penghasilan baru.
Tapi tak disangka hobi tersebut malah mengantarkan Arya untuk mengelilingi berbagai sudut tempat di Indonesia. “Dari tato ini saya bisa menikmati hidup dari Aceh sampai ke Irian juga pernah. Itu ada yang karena niat sendiri berangkat kesuatu tempat, tapi ada juga yang karena pesanan orang,” kata Arya sembari merapikan peralatan tato. “Setelah saya lulus, saya keliling ke berbagai tempat untuk menato orang, jadi saya keliling itu cuma bermodalkan alat tato saja,”jelasnya.
Selain itu, dia juga mengaku kesempatan tersebut memberinya banyak wawasan mengenai tato. “Dengan tato saya bisa melihat beragam karakter orang. Apalagi pekerjaan ini menyenangkan karena bukan pekerjaan yang terikat, karena ini masalah seni,”ujar pria berzodiak cancer tersebut.
“Ternyata tato mempunyai arti tersendiri, bermacam-macam arti tato pada tubuh orang. Misalnya konsumen saya yang pernah meminta tato untuk kehokian, ada yang sebagai tanda bukti kasih sayang, tapi ada juga yang karena frustasi,” ucapnya.
Menurut pria berambut ikal ini juga menganggap bahwa pengguna tato bukanlah orang biasa.“Penggemar tato itu lebih intelek daripada penghuni mall. Karena mereka malah mengerti seni, dan pastinya mereka berduit. Maksudnya berduit karena logikanya orang yang ditato itu pasti merasa kesakitan, tapi ternyata mereka mau mengeluarkan uang walaupun anggota tubuhnya merasa sakit,” ujarnya.
Setelah puas mengelilingi berbagai tempat, dia kembali lagi ke kota asalnya, Madiun, untuk membuka jasa pembuatan tato. Namun disana pendapatan tidaklah terlalu besar, bagi pria yang juga berprofesi sebagai freelance desain grafis penerbit buku. Tiba-tiba terbesitlah ide untuk merantau ke kota Surabaya. Bermacam-macam tempat disinggahinya, seperti beberapa pusat pembelanjaan di Surabaya, dan akhirnya Taman Bungkul hingga kini sebagai tempat menggali nafkah.
Tapi bukanlah semata untuk mencari nafkah saja, Arya pun menambahkan jika dia ingin menolong orang khususnya masyarakat marginal yang terbelenggu dari pengangguran. Akhirnya setelah usahanya berjalan, dia memekerjakan dua tenaga kerja untuk membantunya di Kinjeng Arta, jasa pembuatan tato miliknya.
“Ini pun saya merekrut mereka karena saya ingin menolong saja yang awalnya mereka memang tidak mempunyai pekerjaan, ada juga yang asalnya anak jalanan,”ucap Arya.”Ya.., alhamdulillah skill yang saya ajarkan bisa menghidupi kehidupan mereka, ada juga tenaga kerja saya yang sudah keluar dan akhirnya membuka jasa pembuatan tato sendiri, saya ikut senanglah karena bisa menolong mereka,” jelas pria yang juga pernah meluncurkan buku desain tato.
Tak tanggung-tanggung bersama dua tenaga kerjanya, dia bisa meraup penghasilan berkisar Rp 2juta/hari. “Satu hari bisa sampai jutaan, kalau lagi sepi ya mungkin lima ratus, tiga ratus. Income memang banyak dari hasil jasa tato permanen, tapi yang tato temporer juga nggak kalah banyak yang minat disini, ” ujarnya. - Dwita Prasetya/10.11.3565






0 comments:
Post a Comment