Arum Manis...Jajanan masa kecil yang berbentuk seperti kapas dengan warnanya yang begitu menarik dan tentu saja rasanya manis. Semanis namanya, atau bahkan bahkan semanis hati si penjuaklnya, Pak sugito. Yaa, begitu beliau biasa disapa. Lelaki setengah baya ini bertubuh sedikit jangkung, perawakannya kurus..dengan kulitnya yang cukup putih. Tampak sedikit kerutan di pelipis matanya, menunjukkan usiannya yang sudah tidak muda lagi. Beliau tampak lelah, terlihat dari sorot matanya yang sayu. Tetapi senyum manis dan keramahan kepada setiap pembeli Arum manis buatanya tak pernah lenyap dari wajahnya.
Pak Sugito, adalah salah satu penjual Arum Manis di Taman Bungkul Surabaya. 3 tahun sudah beliau bekerja sebagai penjual Arum Manis. Beliau memiilih Taman Bungkul sebagai tempat untuk berjualannya karena Taman Bungkul adalah Taman kota di Surabaya yang menurutnya paling ramai diantara taman-taman lainnya. Selain itu, rumah pak Sugito yang berdekatan dengan Taman Bungkul, yaitu di daerah Dinoyo menjadi salah satu alasannya untuk berjualan Arum manis disana.
Pria berumur 56 tahun ini mempunyai 3 orang anak, yang tentu saja sangat beliau banggakan. Terlebih anak pertamanya yang saat ini duduk di bangku SMA kelas 3 di salah satu SMA negeri di Surabaya dan 6 bulan lagi akan duduk di bangku kuliah. Pak Sugito bercita cita ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya, yaitu menyekolahkan ketiga anaknya hingga menjadi sarjana. Sungguh cita-cita yang sangat mulia.
Begitu bersemangatnya Pak Sugito dalam mencari nafkah bagi istri tercinta dan ketiga anaknya. Hal ini dibuktikannya dengan profesinya yang tidak hanya sebagai penjual Arum manis, tetapi beliau juga bekerja sebagai pembuat roti di salah satu perusahaan roti yang cukup ternama di Surabaya. Pak Sugito bekerja di perusahaan roti tersebut dari pukul 7 pagi hinggaa pukul 4 sore. Selepas itu beliau pulang kerumah untuk beristirahat sejenak, dan pukul 6 sore pak Sugito kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai penjual Arum manis di taman bungkul setiap harinya hingga pukul 12 malam.
Untuk biaya hidupnya sehari-hari, Pak Sugito menggunakan gaji dari hasilnya menjadi pembuat roti di perusahaan roti yang telah dilakoninya selama 20 tahun terakhir. Dan hasil dari berjualan Arum manis inilah yang menjadi tabungan Pak Sugito untuk biaya sekolah anak-anaknya. Beliau menabung sedikit demi sedikit dari hasil berjualan Arum manis setiap harinya. Walaupun tidak banyak yang dihasilkan dari berjualan Arum manis, Pak Sugito selalu mensyukuri apa yang ia milik dan dapatkan selama ini.
“Harga 1 Arum manis ini 3000 rupiah, kalau malam minggu atau pas liburan saya bisa dapat 60.000 sampai 70.000. Tapi kalau hari-hari biasa paling mentok ya 20.000 sampai 30,000 “ Ujar pria setengah baya ini dengan senyum ramahnya. Setiap harinya, Pak Sugito membawa sepeda tuanya untuk berjualan arum manis buatannya.
Apabila jualannya tampak sepi, Pak Sugito meninggalkan sepedanya di tempat biasanya berjualan, dan berkeliling di seputar Taman Bungkul dengan menggunakan sebuah tongkat bambu yang telah dibuatnya sendiri, yang diatasnya diberi gantungan dari paku-paku, dan meletakkan arum manisnya di paku-paku yang telah tersedia. Karena apabila beliau hanya diam di 1 tempat, hasil yang didapatkan tidak maksimal. Apalagi saingannya cukup banyak, selain dari pedagang arum manis, juga dari pedagang-pedagang asongan lainnya.Namun, Pak Sugito tak pernah patah semangat dan selalu ikhlas dalam melakoni pekerjaannya.
Sungguh sosok yang patut kita contoh. Seorang suami sekaligus ayah yang mempuyai harapan tinggi bagi anak-anaknya agar kelak menjadi sarjana dan bisa membanggakan keluraga. Tak ada kata “lelah” bagi Pria dengan senyum manisnnya ini untuk membanting tulang, hingga anaknya nanti menjadi seorang sarjana. "Yang penting selalu tersenyum dan mengawali hari dengan doa, pasti semuanya akan berjalan lancar" Ujarnya dengn tersenyum menutup pembicaraan kami malam ini...
By : AGATHA AYU C.K






1 comments:
bisa minta nmer telp pak sugito??
Post a Comment